Advertisement here

Shalat Tarawih : Pengertian, Keutamaan dan Hukumnya

Shalat Tarawih : Pengertian, Keutamaan  dan Hukumnya - Tiap bulan Ramadhan selainnya jalankan beribadah puasa, saat malam harinya kita disunnahkan kerjakan shalat Tarawih. Shalat Tarawih adalah wujud beribadah "Qiyamu Ramadhan" berbentuk shalat sunnah yang dikerjakan saat malam bulan Ramadhan. waktunya sesudah melakukan shalat Isya sampai keluar fajar.

Shalat Tarawih  Pengertian, Keutamaan dan Hukumnya

Pengertian Shalat Tarawih

Disebut "Shalat Tarawih" karena shalat itu realisasinya dikasih interval dengan istirahat, beberapa teman dekat dalam melakukan shalat itu ditambah lagi Thawaf, membaca Al Qur'an atau berzikir selanjutnya shalat kembali. Hal tersebut dilaksanakan sampai tadi malam jemu saat malam Ramadhan. Hal seperti itu dikatakan sebagai "Qiyamu Ramadhan" seperti disebut dalam hadist Nabi Muhammad Saw.

Maknanya: "Siapa saja lakukan Qiyamu Ramadhan dengan iman dan cuman Karena Allah, karena itu diampuni dosanya yang sudah kemarin. " (HR. Muslim)

Berdasar ke hadist tertera di atas Nabi Muhammad Saw, arahkan umat Islam agar perbanyak shalat (sunah) dalam bulan Ramadhan, sebaiknya semakin banyak dari bulan-bulan lainnya. Adapun langkah penerapan shalat tarawih ini pada jaman Nabi bermacam. Baik pada bilangan rakaat nya atau langkah realisasinya.

Diriwayatkan pada suatu hadist oleh Imam Muslim dalam soal penerapan shalat tarawih yang tujuannya jika sebelumnya Nabi shalat malam hari di mushola, yakni shalat Tarawih pada bulan Ramadhan. Saat malam yang ke-2 beliau tiba shalat sedang penganut beliau semakin bertambah banyak yang datang. 

Saat malam ke-3 dan ke empat-nya Nabi tidak tiba ke mushola kembali dengan argumen jika beliau takut shalat Tarawih itu akan diharuskan Allah. Yaitu akan turun wahyu mengharuskan sembahyang itu karena kelihatannya dicintai oleh umat Islam.

Demikian pula pada jaman Khalifah Abu Bakar Sidiq ra, tetap sama. Umat Islam shalat Tarawih di Bulan Ramadhan masing-masing atau bergerombol, ada 3 ada 4 ada orang. Shalat Tarawih dengan 1 imam pada sebuah Mushola tidak ada pada periode Khalifah Abu Bakar Siddiq ra. 

Penerapan Shalat Tarawih baru ada peralihan yaitu secara berjemaah dalam jumlah rakaat diseragamkan 20 rakaat ditambahkan 3 rakaat Witir ialah pada jaman Khalifah Sayyidina Umar bin Khattab ra.

Keutamaan Shalat Tarawih

Orang yang lakukan Qiam Ramadhan akan diampuni dosanya.

Rasulullah Saw Bersabda:
Maknanya: Dari Abdurrahman bin Auf ra. jika Rasulullah Saw sudah bersabda: "Sebenarnya Allah SWT sudah memfardhukan puasa Ramadhan, dan saya sudah mensunnahkan qiam pada malamnya. Karena itu Barangsiapa Berpuasa pada siangnya dan kerjakan shalat pada malamnya, karena berharap ridha Allah, pasti keluarlah dia dari dosa seperti di hari dia dilahirkan oleh ibunya" (HR Ahmad)

Shalat sunah malam (terhitung shalat Tarawih) sebagai shalat yang paling penting sesudah shalat fardhu. 

Sebagai mana sabda Rasulullah Saw seperti berikut:
Maknanya: Dari Abu Hurairah Dia berbicara, Rasulullah Saw bersabda: Seutama-utama puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa sunnah di bulan Muharram, dan seutama-utama shalat setelah shalat fardhu ialah shalat sunnah saat malam hari. (HR Muslim).

Hukum Shalat Tarawih Berjemaah

Adapun berkenaan hukum berjemaah shalat tarawih beberapa ulama berlainan opini, salah satunya:
1. Abu Hanafiyah, Syafii, umumnya teman dekat Syafii, Ahmad dan beberapa ulama Malikiyah memiliki pendapat jika shalat Tarawih paling utama dikerjakan dengan berjemaah di Mushola. Sama seperti yang sudah ditangani dan diperintah oleh Khalifah Umar bin Khatab ra dan beberapa teman dekat lainnya.
2. Malik, Abu Yusuf dan beberapa penganut Syafii memiliki pendapat jika shalat Tarawih paling utama ditangani di dalam rumah semasing. Ini berdasarka hadist seperti berikut:
Artinya: Dari Ibnu Umar ra, dia berbicara: Rasulullah Saw sudah bersabda: Seutama-utama shalat adalah shalat seorang yang ditangani di tempat tinggalnya selainnya shalat fardhu. (HR. Bukhari dan Muslim)
Opini Abu Hanifah, Syafii dan Ahmad dilihat sebagai opini yang semakin kuat karena berdasar hadis berikut:
Maknanya: Dari Aisyah ra, Sebenarnya Nabi Saw kerjakan shalat tarawih dalam mushola karena itu kerjakan shalat juga ada berada di belakangnya sebagian orang, selanjutnya saat malam selanjutnya Nabi kerjakan shalat kembali karena itu banyaklah beberapa orang yang ikutinya. Saat malam ke-3 mereka bergabung juga tapi Nabi tidak keluar ke mushola. Saat pagi harinya Nabi bersabda: Saya sudah menyaksikan apa yang sudah kamu lakukan tadi malam. Tidak ada yang merintangi saya keluar ke mushola semalam selainnya dari saya takut di fardhukan shalat itu atas kamu. (HR. Abu Daud)

Dalam hadist di atas mengatakan jika kerjakan shalat tarawih di bulan Ramadhan secara berjemaah di mushola ialah diprioritaskan. Hadist ini juga sebagai pegangan untuk ulama yang memutuskan jika shalat Tarawih ditangani secara berjemaah di mushola.

Hadist yang lain mengatakan jika shalat Tarawih dikerjakan berjemaah di mushola ialah seperti berikut:
Dari Urwah ra. dia berbicara: Sudah Diberitakan kepadaku oleh Abdurrahman Alqari sesungguhnya Umar di suatu malam keluar melingkari mushola di bulan Ramadhan sedang di mushola ada orang bergolong-golongan, ada yang shalat sendirian dan ada yang di turuti sebagian orang. Menyaksikan itu Umar berbicara: Untuk Allah saya anggap jika kita mengumpulkan beberapa orang ini untuk seorang imam. Setelah Itu beliau juga memerintah Ubai bin Kaab agar mengimami mereka dalam shalat di bulan Ramadhan. (HR. Bukhari)

Menurut Jumhur Ulama jika yang afdol yakni shalat tarawih ditangani di mushola secara berjemaah. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Ali, Ibnu Masud dan Ubai bin Kaab sesungguhnya Umariah yang memerintah beberapa teman dekat kerjakan shalat tarawih secara berjemaah. Dan ini terus-terusan ditangani oleh beberapa teman dekat.

Beberapa Ulama memiliki pendapat jika yang paling utama kerjakan shalat tarawih ialah dengan masing-masing di dalam rumah. Ada yang memiliki pendapat jika ingat Al Qur'an dan tidak malas jika shalat sendirian, karena itu kerjakan shalat sendirian paling utama. Jika tidak ingat Al Qur'an karena itu paling utama shalat tarawih ditangani secara berjemaah.

Menurut kelompok Malikiyah, Abu Yusuf dan beberapa Syafi'iyah jika shalat tarawih paling utama ditangani sendirian di dalam rumah semasing. Argumen mereka adalah Nabi Saw kerjakan tarawih sendirian tiap malam terus-terusan. Terkecuali cuman beberapa malam saja beliau melakukan shalat tarawih secara berjemaah. Demikian pula yang ditangani oleh Abu Bakar.

Jadi shalat sunnah saat malam Ramadhan diberi nama shalat Tarawih ialah karena beberapa kelompok salaf melakukannya dengan stop untuk istirahat pada setiap empat rakaat. Mereka kerjakan shalat sunnah saat malam Ramadhan semacam itu. 
Karena mereka mencontoh langkah yang ditangani oleh Rasulullah Saw yang didapat dari suatu hal kisah berikut ini:

Maknanya: Dari Aisyah ra, dia berbicara: Ialah Rasulullah Saw kerjakan shalat empat rakaat saat malam hari selanjutnya bergembira lama sekali, hingga saya berasa sayang padanya. (HR Baihaqi)

Demikian berkenaan pemahaman shalat tarawih, kelebihan dan hukum shalat tarawih berjemaah. Mudah-mudahan apa yang telah dijabarkan di atas dapat berguna.
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Advertisement here
Advertisement here
Advertisement here
Advertisement here